Hosting Unlimited Indonesia

Apalah Arti Sebuah Jersey

Kalau yang pernah gowes sama Saya dan jeli .. pasti berfikir, nih orang ga pernah terlihat gowes pakai jersey ... haghaghag..!

Memang ga punya dan ga punya minat untuk ikutan bikin jersey. Dan biarlah tetap begitu. Satu-satunya jersey Saya adalah hasil dari ikutan TDP#7 dan itu juga belum pernah Saya pakai.

Ada beberapa alasan Saya tidak punya dan tidak suka pakai jersey. Menurut Saya, jersey hanya akan mengkotak-kotakan goweser. Saya lihat kecenderungan itu  dan rata-rata begitu.

Seseorang hanya mau ngumpul dan gowes dengan Yang satu jersey, karena berdasarkan kesamaan merk atau tipe sepeda. Itu tidak sesuai dengan pemikiran Saya.  Meskipun Saya memiliki kecenderungan gowes hanya ketempat-tempat yang indah, tapi Saya tidak pernah peduli dengan siapa, sepeda.ya apa .. yang penting destinasinya indah. Karena hidup ini indah.

Juga, jersey dengan custom komunitas tertentu itu mahal. Jika harga jersey masal berharga sekitar 100rb .. jersey komunitas bisa berharga 2 atau 3 kali lipat. Hemat Saya, lebih baik Saya belikan peralatan pendukung seperti sollarcell powerbank.

Tapi itu cara pandang Saya, Anda... terserah..!







Curug Ke-20 : Curug Citiis

Sama sekali tidak ada petunjuk di google mengenai keberadaan curug ini. Hanya info dari warga lokal ketika Kami melintas bersama tim Cuter ketika menyambangi Cikegbrong. Perlu menunggu waktu yang tepaat sampai Curug Citiis kembali ada airnya .. saat jnilah yang tepat menyambangi curug ini.

Hari Minggu kemarin, setelah beranjak dari Curug Cilandak Kami melanjutkan perburuan menuju Curug Citiis. Terpisah sekitar 1 km, Saya tidak yakin apa masih dalam aliran sungai yang sama.
Yang jelas bermuaranya sama di Kali Cipamingkis.



Selepas dari Dayeuh, menyeberangi Kali Cipamingkis, jalanan sudah mulai nanjak. Nanjak dengan kondisi jalanan aspal terkelupas tapi batunya masih kuat (tidak lepas) saat dilindas ban dengan kemiringan lumayan curam membuat pengalaman berbeda.

Tanjakan itu terus sekitar 1.5 km sampai terakhir di kp. Tanjakan Gombong, ambil jalan ke kiri dari arah Kali Cipamingkis melintas kebun beberapa ratus meter. selanjutnya turun ke lembah dengan kemiringan curam. Sepeda Kami titipkan ke rumah penduduk terakhir.


Curug Citiis turun ditiga lokasi yang berbeda dari aliran sungai yang sama, sebut saja Curug Citiis 1, citiis 2 dan Citiis 3. Citiis 1 berada dibalik rerimbunan pohon bambu, seram juga .. takut ada ular.

Citiis 3 berada setelah Citiis 2, sedangkan yang paling ramai dan dipakai berenang adalah Curug Citiis 2.


Memang diperbukitan kecil, wajar jika disaat musim kemarau air curug menjadi kering. Selanjutnya Kami berenam melanjutkan perjalanan. Sudah mendekati tengah hari, perut juga sudah mulai lapar. Sepakat makan siang kuliner khas sini, belut picung.

Mendaki sisa-sisa tanjakan sampai Tanjakan Gombong, hmmm... lumayan juga nih tanjakannya.  Kalo kata Om Wewe tanjakannya Ciherang Kw. Mampir sebentar di Cikegbrong sekedar untuk makan siang, sekitar jam 1 siang, apes .. belut picungnya sudah habis. Akhirnya menu alternatif, sayur asem plus gabus asin.

Setelah makan Kami lanjut pulang, hujan deras ditengah jalan membuat suasana gowes makin berwarna. Sampai di Simpang Cibucil, hanya Saya yang belok kiri menuju rumah lewat pertigaan Gandoang.


CU at Next trip ...


#‎xpdc100curug #fullgowes‬ ‪#‎7persenwarass‬ ‪#‎federal‬ ‪#‎bike2camping‬ ‪#‎cuter‬
 ‪#‎picknikers‬ ‪#‎gowes4healthdotblogspotdotcom‬

" jika bermanfaat ... tinggalain jejak ya ..share, like, atau comment di Blog ini, Thanks ! " 


Curug Ke-19 : Curug Cilandak, Serasa Punya Pribadi

Banyak yang belum tahu kalau diperbatasan Jonggol dan Sukamakmur, diantara bukit-bukit itu ada sebuah curug. Curug Cilandak, airnya mengalir ke Sungai Cipamingkis. 

Ini adalah curug yang terdekat dari lokasi rumah Saya di Bekasi, tidak sampai 40 km. Merupakan curug kecil, sudah lama ingin menyambangi curug ini cuma karena kemarau, airnya kering.


Rute yang Saya dan teman-teman Cuter tempuh kemarin hari Minggu Cibucil - Jonggol - Pasar Dayeuh - Menyebrangi Kali Cipamingkis - Sukaresmi.

Tim Cuter terdiri dari 6 orang, Om Wewe, Om Risna, Om Musa, Om Cipto, (lupa), dan Saya. 

Curug Cilandak terdiri dari dua bagian, sebelah kiri membentuk kolam dengan kedalaman sedada dan berdasar pasir. Cocok buat main loncat dari atas curug.

Sebelah kanan curugnya, terbaut dari batu alam yang masih muda. Sepintas mirip seperti taman buatan dari semen yang bebatuannya mudah terlepas.

Mungkin diatas aliran airnya terpecah menjadi dua bagian.


Ketika Kami datang, praktis hanya kami berenam yang ada dilokasi curug, serasa punya curug Pribadi. Baru beberapa lama kemudian anak-anak kampung datang dan bermain air dikolam.

Tidak lama, Kami berenam melanjutkan hunting hari itu menuju curug Citiis masih dilokasi yang sama, tidak terlalu jauh.

CU at Next trip ...


#‎xpdc100curug #fullgowes‬ ‪#‎7persenwarass‬ ‪#‎federal‬ ‪#‎bike2camping‬ ‪#‎cuter‬
 ‪#‎picknikers‬ ‪#‎gowes4healthdotblogspotdotcom‬

" jika bermanfaat ... tinggalain jejak ya ..share, like, atau comment di Blog ini, Thanks ! " 


DiY : Membuat Charger HP Tenaga Matahari

Pengalaman ke Tanjung Lesung, berada diluar rumah selama 4 hari ... bersepeda. Dihari keempat terasa jauh dari peradaban. Gegaranya adalah powerbank abis daya dan HP lowbat. Lengkap sudah.. Dihari ketiga sudah sekarat, hanya bisa numpang ngecas HP di warung yang Saya singgahi, sebentar kemudian HP mati lagi.

Kejadian yang sama tidak boleh terulang diacara TDP#7 (Tour de Pangandaran edisi ke-7) yang lebih jauh dan lebih lama durasinya. Rencana Saya fullgowes PP, sudah mempersiapkan cuti 7 hari.

Kemarin tanya sana-sini mengenai powerbank solarcell, tanya google. Banyak powerbank solarcell yang harganya murah, tapi menurut teman yang sudah pakai itu barang abal-abal. 



Dapat ide membuat sendiri charger sollarcell. Jadi selama gowes siang hari, memanfaatkan tenaga matahari untuk charge powerbank. 

Berikut Saya bagikan tutorialnya, siapa tahu berguna untuk Anda ..

Bahan yang perlu dipersiapkan :
  1. Kit Sollarcell (bisa beli ke Saya)
  2. Kabel mini USB 
  3. Powerbank
  4. solder dan timah
  5. Tas top tube (ini juga bisa dibeli di Saya)
Kit solarcell sudah setengah jadi, yang perlu Kita lakukan hanya menyambungkan kabel usb mini plus dan minusnya ke patern solder plus minus sollarcell dengan timah solder.







Tas top tube yang dipakai untuk meletakan sollarcell dan powerbank agar tetap praktis dan aman selama perjalanan.



Meskipun bisa langsung dipakai untuk charge HP, tapi kalau Saya lebih memilih mengisi powerbank sampai penuh. Nah, dari powerbank ini bisa dipakai untuk macam-macam, HP, Senter, Lampu tenda, dll.

CU at Next Artikel DIY ...


#‎xpdc100curug #fullgowes‬ ‪#‎7persenwarass‬ ‪#‎federal‬ ‪#‎bike2camping‬ ‪#‎cuter‬
 ‪#‎picknikers‬ ‪#‎gowes4healthdotblogspotdotcom‬

" jika bermanfaat ... tinggalain jejak ya ..share, like, atau comment di Blog ini, Thanks ! " 





Curug Ke-18 : Curug Pengantin, Cantik dan Liar

Hanya kisaran 100 meter dari Curug Lalay, masih dalam aliran hulu Sungai Ciomas ada Curug Pengantin. Si cantik tapi liar. "Hanya" 100 meter tapi rute yang musti dilalui mendaki bukit terjal, ada satu sisi pendakian nyaris vertikal, sekitar 10 meter harus dilalui dengan merambat diantara akar pohon dan seutas tali.


Dinamakan Curug Pengantin mungkin karena curug kembar berdampingan seperti sepasang pengantin dipelaminan. Ketinggiannya lebih dari 40 meter. Masih bisa didaki menuju curug diatasnya, tapi hanya sampai tingkat kedua. Keatasnya lagi tidak ada akses jalan.

Masih sedikit yang pernah kesini, penyebabnya karena akses jalan yang mengharuskan dengan jalan kaki dari dam Ciomas sekitar 2 jam. Tidak ada pilihan mode transportasi lain apapun selain jalan kaki.


Tidak ada fasilitas apapun disekitar lokasi kecuali sebuah warung yang menjual kopi, mie instan dan minuman hangat lainnya. Jadi, sebaiknya jika berniat berkunjung kecurug ini lebih baik bawa bekal, terutama air minum.

Waktu terbaik untuk mengunjungi lokasi ini adalah musim kemarau, meskipun debit airnya kecil tapi lebih aman. Mengingat sebagian trek yang dilewati menyusuri aliran Sungai Ciomas.


Datanglah lebih pagi, seperti perjalanan Saya kemarin. Bersama rombongan cuter berjumlah 7 orang, Kami sudah start dari Dam Ciomas jam 7 pagi. 

Disamping kondisi pagi dengan sinar matahari yang lebih ramah, juga kondisi cuaca diawal-awal musim hujan yang bisa sewaktu-waktu hujan. Setidaknya Kami masih mempunyai cadangan waktu jika cuaca memburuk.

Sekitar jam 9 kami sampai di curug ini, masih banyak waktu yang bisa dihabiskan. Puas banget ...

Ini adalah hulu sungai yang masih orisinil, Anda bisa langsung meminum airnya. Tapi carilah air dari tetesan didinding bukit, bukan dari air curug. Seperti itu sedikit ilmu survival yang diajarkan guide yang Kami sewa.

Betul juga sih, diujung sana sudah tidak ada lagi peradaban, yang berarti tidak ada pencemaran air.

Ini adalah surga tersembunyi ditengah kepungan perkotaan yang tidak terlalu jauh. Jika Anda berniat kemari, jangan lupa ... tetap jaga kelestariannya dengan tidak memakai produk kimia seperti sabun atau shampoo. Dan jangan lupa bawa kembali sampah Anda !

CU at Next Trip ...





Curug Ke-17 : Curug Lalay, Masih Perawan

Tidak sia-sia keputusan tiba-tiba dengan mengorbankan schedule sebelumnya untuk bergabung dengan tim cuter edisi Curug Lalay. Juga usaha keras untuk bisa mencapai titik klimaksnya.

Lebih berat jalan kaki 2 jam (sekitar 7-8 km) menyusuri sungai Ciomas, persawahan, dan bukit-bukitnya daripada perjalanan gowes sepeda yang menempuh jarak 50km lebih sedikit via Cariu.

Tapi semua terbayar lunas malah menang banyak, ibarat klimaksnya adalah saat menginjakan kaki di curug, bonus kenikmatannya adalah saat treking Menyebrangi sungai cross 14 kali, disuguhi pemandangan sawah dengan padi yang mulai menguning. Diatasnya ada rimbun pepohonan dibukit-bukit.


Tim cuter edisi Curug Lalay masih menggunakan format NR ala cuter terdiri dari 7 orang. Om Wewe sebagai marshal, Om Heru, om Moksen, om Ismail, Om Dadang, dan Saya.

Efektif start jam 11 malam dari kawasan industri MM2100, rutenya via Saung Rangon, Cibucil, Cariu, dan finish di kampung Tonjong jam 3 dini hari. Rencana mulai treking jam 7 pagi, ada jeda waktu buat sekedar tidur tapi tetap aja akhirnya begadang.

Jam 7 pagi Kami sudah mendapatkan seorang penduduk setempat yang bersedia menjadi guide trip ke Curug Lalay. Namanya Om Ogong, kalau Anda berminat bisa japri Saya jika membutuhkan tenaga beliau menjadi guide.

Kami memerlukan waktu sekitar 1.5 jam untuk mencapai tujuan. Biasanya rombongan lain paling cepat 2 jam. Maklum.dengkul kami terlatih gowes.


Sebelum jam 9 pagi, sebelum gerombolan alay menyerbu tempat yang masih sangat perawan ini tim cuter sudah puas-puas main air di Curug Lalay.

Pengelolaannya masih tradisional, sepanjang rute trek kami 14 kali cross sungai Ciomas langsung njebur. Tidak ada fasilitas jembatan penyebrangan apapun.

Dilokasi Curugpun tidak ada fasilitas kamar ganti, apalagi MCk. Hanya ada warung kopi dan mie instan dengan gubuk alakadarnya.

Btw, asyiknya nambah... susah nyari curug disekitar Bekasi yang masih lugu aka orisinil seperti Curug Lalay ini.

CU at Next Trip ...

Tour De Tanjung Lesung, (Kalau) Fullgowes 500 Km+ (Part 2)

Maaf pemirsa, kepotong acara liburan akhir tahun bareng keluarga. Dan memang sengaja dibuat dua part tulisan mengenai trip ke Tanjung Lesung, panjang .. mencoba mengulas secara detail.

Cerita kemarin kan Saya akhiri sampai bermalam di Hotel SPBU Labuhan. Keesokan paginya, sekitar jam 05.00 pagi Saya dan om Sunita melanjutkan perjalanan, masih berdua didepan rombongan yang lain.

Karakteristik kontur Labuhan memang unik, geser kearah barat sedikit sudah pantai dan naik kearah timur langsung perbukitan. Keunikan akan tampak dari hasil alamnya, disepanjang jalan banyak sekali para pedagang ikan darat dan durian lokal.

Sedangkan dipantainya menghasilkan produk ikan laut, sungguh Indonesia memang kaya. Karakter ini juga tergambar dengan jelas pada jalan yang rolling khas perbukitan lalu disambut jalanan ditepi pantai. 

Dua foto ini akan mengilustrasikan kontrasnya pemandangan disekitar Labuhan, tidak terlalu jauh jarak antara dua tempat ini.

 
Pantai Citeureup, Labuhan 
Situ Cikedal, Labuhan dipagi hari
Regrouping rombongan trip Tanjung Lesung hari ke-2 terjadi disebuah warung makan ditepi pantai, didepannya pas ada masjid. Tepat sekali pemilihan tempatnya, waktu itu menjelang solat Jumat. Cocok, yang ga jumatan bisa beristirahat diwarung makan. 

Sudah dekat, Tanjung Lesung dalam hitungan jam. Selepas jumatan rombongan Bikepea langsung melanjutkan perjalanan. Sekitar jam 2 sudah mendarat di Tanjung Lesung.


Ternyata vila yang dijanjikan sebagai tempat menginap dimalam ke-2 masih sekitar 19 km lagi. Huff .. melewati jalan makadam dan panas terik ..!

Lanjut om ! 19 km lagi .. sekitar 1 jam lebih gowes .. kami mulai memasuki jalan makadam pertama dari trip ini. Lumayan bikin lengan kesemutan. 

Jalan makadam terpotong oleh jalan cor halus, tapi .. asem .. nanjak bro ! Lumayan ngehe nih tanjakan. Apesnya lagi jari-jari Saya putus satu ditanjakan ngehe itu.

ditanjakan itu jari-jari belakang sepeda Saya putus 1 ..
Walah, terpaksa Saya harus gowes dengan kondisi roda belakang speleng berat, geal-geol. Ga bisa cepat maks 11 kpj. Mana sehabis cor itu masih ada makadam yang lebih berat, batunya lebih kasar ... lengkap sudah.

Rupanya tempat menginap Kami adalah vila di Pantai Cemara. Letaknya sudah dekat dengan Pantai Sumur, pelabuhan kecil tempat menyebrang ke Pulau Umang yang terkenal itu. Sekitar 10 km lagi dari Pantai Cemara, atau ada destinasi yang lebih menawan Ujung Kulon sekitar 30 km lagi.

Pantai Cemara dengan bagan-bagan nelayan lokal
... Masih bersambung ke part 3 ...


CU at Next Trip ...








Hosting Unlimited Indonesia