Hosting Unlimited Indonesia
Showing posts with label video. Show all posts
Showing posts with label video. Show all posts

Tanjakan Aduhai Curug Hordeng

Kalau dianalogikan, perbedaan sepeda MTB dan Sepeda Turing itu seperti burung elang dan bangau. Elang mewakili MTB yang gesit, sigap bermanuver, lincah dan enteng untuk meluncur turun. Sedang bangau seperti sepeda turing. Bangau sanggup terbang ribuan kilometer saat bermigrasi. Seperti sepeda turing yang memang didisain untuk long distance journey. 

Analogi diatas menjadi gambaran yang pas atas kekonyolan Saya saat  gobar NR Cuter ke Curug Hordeng. Saya salah kostum,.... hadeh. Trek Curug Hordeng pendek (sekitar 40 km) tapi ditaburi turunan curam (saat pulang) dengan jalanan aspal terkelupas brekele. Saya memakai sepeda turing rasa roadbike, alias pakai stang dropbar. Rasanya mau rontok, tangan dan juga sepeda. But, okelah ... buat koreksi di next trip aja. Kita lanjut aja kupas-tuntas event NR Cuter edisi Curug Hordeng. 




Curug Hordeng berada di Dusun Cibeureum, Desa Cibadak, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Sebenarnya relatif lebih dekat dibanding dengan curug-curug lain yang pernah disambangi Cuter. Tercatat dicyclometer 46 km. Tapi... jangan dibayangin mudah untuk mencapainya, karena dari 46 km itu .. hampir 40% nya tanjakan yang aduhai. 

Seperti biasa, kalau buruan curugnya berada di sekitar Sentul, tikumnya di Alfamidi Cikeas. Hehehehe.. dan mungkin karena info tentang tanjakan-tanjakan yg seperti pohon kelapa sudah bocor, maka yang siap mental dan fisik hanya 8 orang, team inti Cuter ... boleh dibilang begitu. 



Dengan pertimbangan jaraknya dekat, tim Cuter edisi Curug Hordeng cabut dari tikum menjelang jam 1 malam. Melewati rute Pasar Citeureup belok kiri, Desa Tajur, ... aman masih datar-datar saja. Nah ... melewati perbatasan Citeureup - Sukamakmur tepatnya di Desa Pabuaran sudah mulai nanjak-nanjak dan tanjakan lebih parah setelah memasuki Desa Cibadak. Tapi, ini belum seberapa dibanding nanti didepan. Setelah pertigaan kearah Leuwi Hejo tanjakannya sanggup bikin ban depan terangkat. Sebelum subuh, sesuai perkiraan dengan tim inti Cuter ... Kami sudah mencapai check point terakhir di sebuah warung sop yang buka 24 jam 300 meter sebelum pertigaan. Kami break disitu, menunggu terang... sebagian tidur-tiduran sekedar mengusir kantuk... NR ini loh.. begadang ! 

Tapi sial, Kami musti buang waktu hampir 2 jam untuk memperbaiki sepeda om Wewe yang rusak. Kerusakan yang serius, dibagian freehub, ga ada pelornya... parah. Saking parahnya ketika pelornya sudah diganti dibengkel terdekatpun tetap oblak,... conesnya sudah kena. Akhirnya .. menyerah om Wewe balik kanan dikawal om Danang. 



Tersisa 6 orang yang lanjut .. tinggal 6 atau 7 km lagi. Perjuangan mencapai Curug Hordeng mencapai titik klimaks ... seru !!! Sekitar 1 km pertama dari pertigaan Cibadak mulai tanjakan pertama, sebenarnya tanjakannya pendek, terus datar, turun nanjak pendek. Tapi, sudutnya curam, suram dah... apalagi ditambah aspal brekele, rusak menyisakan bongkahan batu ditengah jalan yang bikin kagok. Belum lagi motor yang mengganggu konsentrasi nanjak. 

Di tanjakan pertama, lucu dah.. om Udin cah ilang muter-muter aja dibawah. Terhitung 4 kali percobaan tapi gagal. Akhirnya TTB. Masih ada 4 lagi tanjakan sejenis ini, pendek tapi ngeselin. Tanjakan kedua lulus semua, tanjakan ke-3 ditengah-tengah sawah dengan jalanan cor yang tergerus air. 



Tanjakan ke-4, dinamai Tanjakan Choir. Ini tanjakan tersulit, pendek tapi sudutnya sangat curam. Harus pintar-pintar memilih jalan, menghindari jalan rusak. Dan fasih menjaga posisi agar ban depan tidak naik, serta handling agar tidak roboh. Hanya om Nana yang lulus, itu aja rehat untuk ambil ancang-ancang ditengah jalan.

Sekitar 1/2 sebelas setelah melewati gerbang, ... oya.. info tambahan harga tiket naik menjadi 15rb perorang. Perasaan beberapa bulan kemarin masih jeban. Strategi marketing, ternyata sebelum Curug Hordeng sudah dibuka destinasi baru, Curug Mariuk, tiketnya masih jeban. Buruan dah yang mau kemari sebelum dinaikin lagi harga tiketnya. 

Kami parkir dirumah penduduk .. sekitar 500 meter dari gerbang. Dilanjutkan hiking turun naik bukit... sorry lupa nama perbukitan disekitar sini.. lupa nanya maksudnya. Sekitar 1 jam kemudian Kami sudah mulai melihat anak sungai dilembah. Curug Hordeng dulu, dari hulu dulu. 

Dinamai Curug Hordeng, sepintas memang mirip hordeng yang melebar, tapi tidak tinggi. Tingginya paling 5 meter dengan lebar sekiar 15 meter. Terdapat 2 undakan dengan tiap undakan terdapat kolam dengan kedalaman selitar 2 meter. Airnya jernih tapi tidak terlalu dingin, bisa berlama-lama main air disini.



Aliran air menuju kebawah bersatu dengan aliran Curug Kembar, dengan kata lain ... sumber airnya tidak sama antara Curug Hordeng dan Curug Kembar. Menyatunya kedua  aliran air ini dibawah nanti membentuk Curug Baru, Curug Ciburial.

Disepanjang jalur hiking, Kami disuguhi pemandangan elok ... hutan-hutan yang masih lebat ditebing dan lembah, bukit berlapis-lapis.. ada bukti dibalik bukit. Disapui dengan warna langit yang masih membiru,.. memang indah. Terbit rasa syukur, Saya tinggal di Bekasi yang ternyata dekat dengan wilayah Bogor yang masih banyak hutan.. 

Sentul atau Sukamakmur kota kecamatan dengan seribu curugnya. Sudah hampir setahun tim Cuter mengeksplorasi curug.. mayoritas hanya ngubek-ngubek Sukamakmur dan Sentul, disamping Cariu dan Mekar Buana ... selalu muncul curug baru yang belum pernah Saya dengar sebelumnya.



Jam 1 kurang seperempat, Saya dan tim Cuter sudah landing lagi dirumah penduduk tempat Kami menitipkan Sepeda. Tapi kok ya .. ngantuke pol! .. ngopi dulu akh .. ! Nanti jam 1 teng baru turun gunung .... pulang !!! Sudah kangen je.. sama kasur dan bantal dirumah.

Rute pulang, diputuskan rute Pasar Sukamakmur - Jonggol - Cibucil - Pasar Gandoang - Pasar Kojengkang -  Perumahan MGT - berpisah ke rumah
 masing-masing. Fyi : di Pasar Sukamakmur tepatnya dipojokan pertigaan ada warung sop iga sapi yang maknyus.. seporsi 25 rb.. tp Kali ini Kami kurang beruntung, .. nampaknya ada kesalahan siibu warung sehingga nasi yang disajikan sudah tidak fresh lagi.

Letak Pasar Sukamakmur ternyata hanya 8 km dari posisi start Kami, penitipan sepeda. Tapi, ... rutenya rolling.. seimbang antara turunn dan tanjakan. Tercatat ada 3 tanjakan yang lumayan tinggi sehingga mementum meluncur dari turunan gagal mencapai puncak tanjakan, dan ... harus ngicik ... qiqiqiqi !

Benar-benar habis,.. rasa kantuk dan lelah membuat Kami musti break di pertigaan Pasar Kojengkang sekedar untuk mengisi gula,.. sebagai pemicu tenaga terefisien agar bisa mencapai rumah... jiah.. !!!

Dan .. sekitar maghrib Saya mendarat mulus digarasi rumah. Bener ente bilang om Pras... capenya melebihi kemarin gowes #trilogib2b ... Bekasi - Bandung.


Curung Nangka - Curug Ke-10

Tidak yakin juga sih kenapa curug yang terletak di kaki Gunung Salak ini diberi nama Curug Nangka, mungkin dulu di sekitar lokasi banyak ditemukan buah nangka ... ngasal ! ngawur ! ngarang ! Haghaghag !

Tapi menurut cerita tukang kopi yang asli Desa Gunung Malang, Kecamatan Ciampe, Bogor .. lokasi dimana Curug Nangka berada, dulu ada pohon nangka disana yang tiap mau dipetik buahnya menghilang. Kan, jadinya mistik .. heran ya .. orang Indonesia doyan banget sama mistik, takhayul model gitu ...


Curug Nangka Terletak di lembah kaki Gunung Salak, untuk menuju area wisata disambut oleh  portal tiket ada 2 tempat, portal tiket warga dan Perhutani. Lalu melintas jalan di batasi oleh pohon-pohon pinus yang berjajar, masih dibasahi oleh embun tadi malam.

Kami parkir sepeda di titik terakhir sepeda akan sangat sulit dibawa ke curug, tapi om Dooods dan om Dany memaksakan nenteng sepeda sampai ke curug. 


Begitu mendengar suara gemercik air terjun, cuma gemercik ya bukan gemuruh, karena debit airnya masih kecil. Kita datang ke sini diawal musim hujan, tapi dinginnya .. brrr ! serasa pake AC ! Plong rasanya perjuangan gowes 7 jam dari Bekasi akhirnya finish.

Kembali Saya tidak berani mandi, secara gowes kali ini edisi NR, begadang ... orang-orang mah tengah malam tidur, lah ini mah malah gowes .. ckckckck .. memang 7% waras.

Ada yang lucu, salah satu personil cuter bertemu tetangganya, ibu-ibu eh .. sebagian nenek-nenek malah, yang rempong dan berisik banget. Jadi lucu dan menjadi bahan buat guyonan.


Beruntung Saya dan tim Cuter datang dikala masih pagi, sebelum jam 6 sudah nongkrong di curug, jadi masih segelintir orang yang bersama Kita. Masih leluasa foto-foto mengabadikan kenangan bahwa cuter pernah berada disini, 14 orang full gowes, suatu saat bisa menjadi bahan cerita buat anak cucu.

Mulai edisi di Cunang ini juga, Saya mulai memvariasikan dokumentasi, bukan hanya foto dan blog tapi juga video. Pasti lebih seru ya .. yo.. kita saksikan videonya :


Saya rasa dengan hadirnya video lebih memvisualkan gambaran seperti apa lokasi, keindahan tempatnya dari pada foto dan tulisan, seru kan ?

Well... dari 10 curug yang sudah Saya sambangi dengan bersepeda, keindahan Cunang berada di posisi ke-2 setelah Leuwi Li'euk. Keren, .. air terjun di bebatuan vertikal yang jadi air terjun dengan deras dan tidak terpecah. Mungkin kalau debit airnya deras, akan berasa sakit jika kepala kita langsung diguyur air terjun ini.

Saya List nih om-om pemirsa, curug-curug yang sudah Saya sambangi :

  1. Curug Cigamea
  2. Curug  Ciomas
  3. Curug Ciherang
  4. Curug Barong (Leuwi Hejo)
  5. Curug Cibeureum
  6. Curug Cilember
  7. Curug Mandalawangi (bumi perkemahan)
  8. Curug Cipamingkis
  9. Curug Kawung
  10. Curug Nangka
  11. ... Next !
Masih jauh ya 100-nya, haghaghag !


" jika bermanfaat ... tinggalain jejak ya ..share, like, atau comment di Blog ini, Thanks ! "


Curug Ke-9 : Curug Kawung - Magis & Eksotis

Kawung dalam kosakata bahasa di kampung Saya, adalah sebutan untuk daun jagung yang dikeringkan dan dipakai untuk linting rokok. Dulu saat kecil ada rokok jenis ini, rokok kawung. Mungkin sekarang sudah punah.

Tapi, Kawung yang ini adalah nama sebuah curug yang berada di desa Gunung Malang, Kecamatan Ciampea, Bogor. Masih dalam satu DAS (Daerah Aliran Sungai) dengan Curug Nangka. Terletak di kaki Gunung Salak.

sesekali narsis depan kamera dengan atribut cuter dan background curug kawung

Menurut cerita tukang kopi  yang Saya ajak ngobrol di lokasi, Curug Kawung pernah makan korban jiwa yang terseret air bah. Katanya sih...  mencapai 25 orang korbannya. 

Kelihatannya memang rawan, untuk mencapai lokasi mesti melewati jalur sungai dibawahnya. Menjadi sangat berbahaya jika turun hujan deras di hulu, bisa tiba-tiba terjadi air bah. Pengunjung yang berada di aliran airnya terseret, mungkin seperti itu historinya.

foto ini adalah curug daun, 1 undak dibawahnya.  Untuk mencapai curug kawung mesti melintasi tempat ini.

Beruntung Saya menyambangi lokasi ini diawal musim hujan, Jadi debit airnya sudah agak deras. Tidak seperti info dari teman yang menampilkan foto dilokasi yang sama dimusim kemarau, airnya kecil banget.

Nuansanya magis banget , didukung cuaca yang mendung dan dibatasi vegetasi hutan di lereng-lereng lembahnya yang terdiri dari pohon dan semak belukar yang masih perawan. Magisnya mungkin disugesti oleh cerita tukang kopi di bawah tadi.

Sedangkan nilai eksotisnya terpancar dari bebatuan hitam mengkilat hampir tak berlumut yang bertebaran disepanjang aliran air. Jika di Leuwi Hejo bebatuannya berwarna coklat pasta, di sini batu-batu berwarna hitam mengkilat karena basah oleh air.

tingginya sekitar 20 meter lebih

Saya perhatikan dari sejumlah curug yang pernah disambangi. curug yang tingginya lebih dari 15 meter mempunyai dinding curug atau tebing batu yang vertikal 90 derajat. Seperti tembok beton atau tebing batu yang dipahat.

Curug Kawung berciri seperti itu, dengan tebing batu yang nyaris vertikal ketinggiannya Kalau taksiran Saya lebih dari 20 meter. Dengan backgroung Gunung Salak yang menyembul di belakangnya jika dilihat dari aliran sungainya membuat kesan magis dan eksotis.


Di beberapa titik aliran sungainya terbentuk kolam-kolam alami dengan kedalaman sekitar 1 meter, pas banget buat berenang. Airnya bening banget bro, segar... tapi dinginnya ... bbbrrrrr.. ga kuat lama sudah menggigil kedinginan.

nyeduh kopi, mengusir dingin dan ganjel mata yg belum tidur lebih dari 24 jam ...

Setelah puas main air, kedinginan, dan foto-foto,  turun bergabung bareng om-om Cuter. Cocok nih, buka pannier ... nyalain kompor dan nyeduh kopi. Menghangatkan badan, pas buat ganjel mata yang udah ngantuk berat efek begadang NR, sedap betul !

Lebih seru kalo liat videonya ...!



" jika bermanfaat ... tinggalain jejak ya ..share, like, atau comment di Blog ini, Thanks ! "

Bike Camping Cibodas : Ajang Bertemu Para Legenda

Ajang serupa Bike Camping Cibodas ga boleh dilewatkan, jarak juga relatif dekat dan setelah hunting teman akhirnya mendapat 3 orang lain yang sepakat untuk full gowes dari Bekasi.

Kami berempat, Om Didie, Om Daniak, Om doods, dan Saya tgl 23 Oktober 2015 berangkat bareng dari Bekasi jam 7 malam dari pospol Bekasi Timur.

Rute yang kami ambil malam itu adalah via Cikeas, Sentul, mlipir tol, melintasi jembatan di atas Bendungan Katulampa, dan kemudian tembus di exit tol Gadog sekitar jam 11 malam.

Cerita seru gowesnya berawal dari Gadog. Gadog - Warung Mang Ade Puncak Pas itu sekitar 25 km. Dalam jarak 25 km itu yang ada tanjakan doang, huff !!! sampai termehek-mehek.

Kalo dilihat di speedometer, kecepatan Saya nanjak hanya 6-8 km per jam. Cuma cuaca malam yang dingin di jalur puncak yang membantu banyak. Plus sempat istirahat di sebuah kafe tak terawat sekitar 1,5 jam ... kami sampai di Warung Mang Ade jam 6 pagi.

Sejam di Warung Mang Ade, Kami bertemu dengan goweser dari Fedkalta (Federal Kalibata). Kemudian Kami turun, sampai di Bumi Perkemahan Mandalawangi, Cibodas jam 8.30 .. nyari lokasi kemudian mendirikan tenda.

Meskipun Kami datang pagi, ternyata sudah banyak juga tenda yang berdiri. Sayang lokasinya di padang rumput terbuka, Saya harus menyingkir untuk memejamkan mata. Berhammock ria di bawah pohon-pohon cemara diujung perkemahan.


Ada sekitar satu sampai dua jam Saya sempat memejamkan mata, setelah kemarin begadang menyusuri tanjakan puncak pas. Sebelum matahari membangunkan Saya karena cahayanya menembus sela-sela daun pohon cemara yang sedari tadi melindungi.

Sekitar jam 3, Makan siang yang telat,... mandi di air terjun di ujung bumi perkemahan. Curug ini tidak bernama, karena memang hanya pecahan dari curug Cibeureum di atasnya.

Sudah Saya kasih nama Curug CUTER aja ya.. haghaghag ...!

Ini momen yang ditunggu, melihat-lihat sepeda-sepeda lawas yang keren-keren dan pesepeda-pesepeda lawas juga yang melegenda. Dan say hello dengan beberapa teman ...



Meriah juga acaranya, yang hadir melebihi quota... ada sekitar 300 orang yang berkumpul bike camping di Cibodas.


Para legenda itu ada Kang Cuham, om Tri, om Dado Sunandar (Sulep), om Dukun Sketsa, om Prambudi, om Broto Van Libro, termasuk teman seperjalanan om Daniak, Om Didie Alghifary, om Rudi Tris. Beberapa orang pernah bertemu yang lain baru sekali ini. Selama ini hanya mendengar tentang mereka dari cerita mulut ke mulut atau lewat media sosial.

Seperti om Rudi Tris, ini pertemuan kami yang ketiga.. sebelumnya bertemu di Leuwi Hejo dan Jatiluhur. Om Daniak .. beliau ini dari ABC (Asem Bike Community). Monster tanjakan, tanjakan panjang gadog - puncak, kelihatan enteng aja buat Dia, ckckckckck!

Dari om Didie Alghifary yang pulang kampung ke Surabaya dari Bekasi hanya 2,5 hari... Saya banyak belajar mengenai endurance. Dan masih banyak senior dan para legenda yang lain yang ga sempat Saya kenal. Minimal legenda dalam pengertian usia. Banyak Saya lihat orang-orang tua yang masih sehat bugar, ikutan gowes ke Bike Camping Cibodas.

Semoga Para Legenda itu selalu diberikan kesehatan dan Saya ingin di hari tua nanti tetap sehat dan bisa tetap gowes seperti mereka.

Salam hormat Para Legenda ...



100% Barang Bekas

Sebenarnya sih mampu beli, cuma ga seru.. kalo bikin sendiri kan namanya kreatif dan go green .. Recycle, reduce, reuse. Dari pada terbuang percuma cuma jadi sampah. Kali ini melengkapi peralatan yang akan dipakai untuk masak-memasak diacara bike kemping Cibodas.

Yang paling diperlukan adalah windshielder atau penahan angin, kan acaranya ditempat terbuka... penting banget agar api fokus tidak lari-lari tertiup angin.

Terbuat dari kaleng ukuran sedang bekas wafer, bahannya alumunium cukup kuat dan ga berkarat. Sebagai bahan tambahan ada kawat ukuran lidi yang berfungsi untuk mengaitkan bagian-bagian kaleng alumunium yang dipotong sekitar 10 cm lebarnya.






Untuk kompornya masih sama seperti yang biasa dipakai sebelumnya, terbuat dari kaleng bekas minuman kalengan. Sedangkan untuk tangkringan mugnya terbuat dari braket bekas antena.

Sebenarnya kemarin sudah beli kompor yang biasanya dipakai untuk parafin, hanya saja ternyata setelah dipakai diameter kompornya terlalu lebar buat mug. Braket antena ini, kelebihannya adalah bisa diatur bebas menyesuaikan alat masak yang akan dipakai.


Berhubung nesting yang dulu sering dipakai kemping hilang entah kemana, adanya dirumah juga muga stainless ya.. pakai aja. Lumayanlah masih bisa dipakai buat ngrebus air, atau sekedar nyeduh mie instan atau kopi.

100% Barang bekas, recycle, reduse, reuse ..!!! Go green !!!

DiY : Kompor Trangia v2.0

Pada kesempatan yang lalu, pernah diulas mengenai kompor trangia/outdoor yang terbuat dari kaleng bekas minuman. Sebut aja trangia v1.0, Sebenarnya kompor trangia v 1.0 ini secara hasil memuaskan. Hemat bbm dan waktu yang diperlukan untuk memasak mendekati kompor gas. Tapi, kali ini kita akan mencoba membuat kompor trangia dengan bahan yang sama yaitu tetap dari sebuah kaleng bekas minuman tapi dengan model yang berbeda.
kompor trangia yang di buat om Dayim Tri

Cara pembuatannya bisa mengikuti instruksi seperti di link youtube ini ..


Silahkan ikuti cara pembuatannya di link youtube yang di atas, kita akan bahas mengenai performa trangia DiY v2.0 ini ..

Kompor Trangia DiY v1.0 VS v2.0


Jika dibandingkan kelebihan  trangia DiY v2.0 vs trangia DiY v1.0 yaitu :
  • kompor trangia DiY v2.0 ini lebih enak dilihat, lebih keren bentuknya
  • Proses pembuatan sedikit lebih sulit karena memerlukan bor untuk membuat lubang-lubang yang berfungsi sebagai sumbu api. Gunakan mata bor terkecil ukuran 2 mm
  • Untuk memasak seteko air kira-kira 800ml memerlukan waktu sekitar 12 menit
  • Bahan yang dipakai sama yaitu sebuah kaleng bekas minuman ringan, atau bisa juga kaleng kemasan susu bear brand.
test rebus air 800 ml, untuk sampai mendidik sekitar 12 menit

Hasil Test

Dari hasil test kompor trangia DiY v2.0  ini masih perlu beberapa penyempuraan :
  • Perlu dibuatkan stand atau dudukan alat masak [nesting, mug loam, wajan, ketel atau panci] agar lebih stabil dan juga sepertinya perlu spase antara kompor dan alat masak agar pasokan oksigen maksimal.
  • perlu tambahan alat pelindung angin [windshield] bila mau dipakai di luar ruangan.



Sepeda TandIne

Jika Anda orang bekasi atau pernah ikut Car Free Day [CFD] yang rutin diadakan setiap hari minggu di bilangan pemda Kota Bekasi, mungkin Anda pernah melihat sepeda unik ini. Sebuah sepeda Tandem tapi beroda tiga. Nah loh ..!
sepeda tandem tandine .. rodanya 3, kalo tandem pabrikan biasanya rodanya tetap dua ..

Hmm .. jadi ngebayangin, gowes santai bareng orang yang kita cintai bisa istri atau anak. Ikutan CFD atau fun bike yang digowes adalah sepeda tandem, pasti tambah mesra, tambah kompak dah .. hehehe..!

Tapi dijamin Anda hanya bisa melihatnya di sekitaran Bekasi, Jatiasih atau arena CFD Bekasi yang diadakan di Jl. A. Yani sampai Summarecon. Ya betul, Sepeda Tandine ini adalah sepeda rakitan atau home made alias DiY. Adalah Om Achmad Priyadi yang membuatnya. Merupakan dua sepeda utuh yang disatukan, yang dihilangkan hanya komponen ban depan dari sepeda yang di belakang.


Tandine kepanjangan dari TANdem IndoNEsia, di klaim oleh pembuatnya sebagai yang pertama dibuat dengan konsep sepeda tandem tapi beroda tiga. Hmm.. keren ya, so pasti, yang buat Tandine seorang insinyur ternyata, oalah pantesan aja .. !


Kelebihan sepeda TANDINE, berdasarkan test drive pribadi :


1. Lebih ringan 


  • Diperlukan tenaga yang lebih ringan untuk mengayuhnya, karena masing-masing dapat mangayuh secara bebas, sistim transmisi terpisah. Sedangkan di sepeda tandem biasa sistim transmisi menyatu sehingga tidak bisa merubah gear sesuai keinginan masing-masing.
  • Apabila salah satu pengendara tidak mengayuh baik yang didepan ataupun yang dibelakang, tidak akan memberatkan salah satunya. 
  • Untuk membawa penumpang / membonceng, juga terasa lebih ringan. Karena beban di bagi ke ketiga roda, sedangkan di sepeda tandem biasa maupun di sepeda roda dua biasa terasa lebih berat karena beban di bagi hanya di dua roda.

2. Lebih rileks


  • salah satu pengendaranya dapat beristirahat apabila lelah atau mengayuh bergantian. 
  • Sistim transmisi di sepeda TANDINE adalah rantai terpisah, sedangkan di sepeda tandem biasa sistim transmisi rantainya menyatu. Jadi apabila salah satu pengendaranya tidak mengayuh/pura-pura mengayuh, maka beban kaki yang tidak mengayuh akan memberatkan kepada yang mengayuh.

3. Mudah bongkar-pasang

  • apabila ingin dikembalikan ke sepeda biasa (roda dua) sangat mudah. Karena cukup hanya melepas gandengan dan garpunya untuk dipasangkan ke roda aslinya.  

4. Lebih Kuat

  • dari sepeda tandem roda 2, Karena frame/batangan terpisah

5. Lebih ekonomis

  • tidak perlu lagi membeli sepeda tandem apabila sudah  mempunyai 2 (dua) buah sepeda roda dua biasa

6. Ramah Lingkungan, Ecofriendly, atau go green

  • tidak perlu membuang sepeda lama anda (re-use/re-cycle), atau membeli sepeda tandem baru

7. Unik

  • menjadi pusat perhatian karena belum ada yang punya.

Kendala :


  • Sejauh ini tidak / belum di temukan kendala yang berarti, hanya diperlukan sedikit adaptasi bagi yang sudah bisa mengendarai sepeda roda dua biasa.
Kayaknya ngebayangin aja susah ya dapat feelnya .. simak nih video sepeda Tandine


Oke, udah dikupas tuntas mengenai sepeda Tandine, oya.. om Achmad Priyadi menerima pesanan loh jika Anda tertarik ingin memiliki sepeda Tandine. Silahkan kontak langsung ke Beliau. Ini Kontak personnya ..

Achmad Priyadi

Handphone (Call only) : (062-021) 99083421 &  08881497113.

Alamat rumah & Email : 
Griya Asri Jatibening  no : 1,  Rt/w : 02/04, Jalan SDn Jatikramat VI, Kelurahan Jatikramat, Kecamatan Jaiasih,  Bekasi 17412.


Terima kasih untuk om Epi yang sudah mengizinkan Saya untuk membuat ulasan tentang sepeda Tandine di blog ini ..

ditulis ulang dari : http://tandemindonesia.blogspot.com/


DiY : Paddock Sepeda dari Pipa Paralon

Sebagian  model Sepeda MTB tidak dilengkapi dengan kick stand. Biasanya malah di sepeda dengan harga yang tinggi, aneh ya .. tapi menjadi masuk akal, ketika melibas medan offroad keberadaan kick stand cukup  mengganggu. Makanya paddock di jual terpisah, umumnya terbuat dari besi segitiga.


Kali ini, mari kita buat sendiri paddock sepeda dari bahan pipa pvc atau paralon.

PRB .. Tour de Cigentis versi youtube

Langsung aja disimak ...

Membersihkan Rantai dengan Karbu Cleaner

Setelah dipakai gowes lebih dari 200 km, rantai udah mulai berisik, kotor dan mulai menghitam. Sudah mulai susah dibersihkan dengan sabun biasa. Eh, cek di rak alat-alat ada karbu cleaner, cocok !
Cairan sejenis solven dalam kemasan semprot ini cocok buat merontokan debu dan oli. Yuks ah, bersihin rantai.


Siapin dulu alat-alat yang bakalan dipakai :

Hosting Unlimited Indonesia